Demi Sebuah Alat Tulis Pensil Seorang Anak Harus Kehilangan Nyawanya
Tangerang, Posindonesia.net –
Demi sebuah Alat Tulis (Pensil) Ia harus kehilangan Nyawanya:
Di sebuah kampung sunyi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, hiduplah seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun. Sejak kecil, ia tidak tinggal bersama orang tuanya. Bukan karena ia tak dicintai, melainkan karena kemiskinan memaksa cinta itu berjarak. Ia dititipkan kepada neneknya seorang perempuan renta berusia delapan puluh tahun, yang langkahnya tertatih, tangannya gemetar, namun doanya tak pernah putus.
Setiap pagi sebelum matahari menyembul dari balik bukit, sang nenek membangunkan cucunya. Mereka sarapan seadanya kadang hanya air hangat, kadang sisa ubi semalam. Sambil merapikan baju sekolah cucunya yang telah memudar warnanya, nenek itu selalu berbisik pelan,
“Sekolah yang rajin, Nak. Ilmu itu cahaya, Ilmu adalah Jendela Duniamu.”
Anak itu mengangguk. Ia percaya dengan sepenuh hati.
Ia sangat mencintai sekolah. Ia sangat menyukai setiap cerita-cerita gurunya. Ia mencintai huruf-huruf yang membentuk mimpi. Namun sering kali tulisannya terhenti di tengah halaman. Bukan karena ia tak mampu, melainkan karena ia tak memiliki pensil sendiri. Kadang ia meminjamnya pada temannya, kadang ia hanya menatap papan tulis lebih lama, berusaha menghafal huruf-huruf yang tak sempat ia tuliskan.
Suatu hari, guru meminta semua murid membawa alat tulis baru. Anak-anak lain bersorak kecil, membicarakan alat tulis dan juga buku.
Ia terdiam, dibenaknya hanya ada satu wajah: neneknya yang tengah berjuang untuk membeli beras. Ya, membeli beras saja harus berutang pada tetangga.
Sore itu ia pulang lebih cepat dari biasanya.
“Kok cepat pulang?” tanya sang nenek.
Ia tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan anak seusianya.
“Tidak apa-apa, Nek.”
Padahal di dadanya tersimpan beban yang tak seharusnya dipikul anak sepuluh tahun: rasa malu karena miskin. Ia merasa dirinya beban. Ia merasa mimpinya terlalu mahal. Ia merasa dunia ini tidak ramah bagi anak kecil yang tak punya apa-apa.
Keesokan harinya, kampung itu kembali sunyi. Namun sunyi yang berbeda.
Tangis sang nenek pecah tangis kehilangan yang bukan hanya merenggut seorang cucu, tetapi juga masa depan yang selama ini ia titipkan pada pendidikan dan harapan.
Seorang anak telah pergi.
Bukan karena ia tak ingin hidup,
melainkan karena ia tak melihat jalan untuk dapat bertahan.
Dan kita, sebagai orang dewasa, seharusnya berani bertanya dengan jujur:
Bagaimana mungkin di negeri yang tanahnya subur, lautnya luas, dan kekayaannya melimpah, seorang anak harus kehilangan masa depan hanya karena tak mampu membeli alat tulis?
Apa arti “Negeri kaya”, jika nenek berusia delapan puluh tahun harus memikul tanggung jawab negara?
Apa arti pembangunan, Jika sekolah terasa bukan sebagai hak, melainkan beban?
Ini bukan sekadar kisah sedih.
Ini adalah cermin yang retak.
Dan di dalamnya, kita melihat wajah kita sendiri.
Semoga tak ada lagi anak yang merasa mimpinya terlalu mahal.
Semoga tak ada lagi nenek yang harus mengubur harapan.
Dan semoga, suatu hari nanti,
pensil tak lagi menjadi penentu hidup dan mati seorang anak di negeri ini.
Vernando Sihombing
Ketua Umum DPP GNB
(***)










