Diantara dari Australia, Dosen Dan Praktisi Membahas Penting Restorasi Pengelolaan DAS Cidurian- Cisadane | POSINDONESIA.NET
class="post-template-default single single-post postid-3772 single-format-standard custom-background wp-custom-logo" id="top">
mgid.com, 749657, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Diantara dari Australia, Dosen Dan Praktisi Membahas Penting Restorasi Pengelolaan DAS Cidurian- Cisadane

Diantaranya dari Australia, Dosen dan Praktisi Bahas Pentingnya Restorasi Pengelolaan DAS Cidurian-Cisadane

 

Tangerang, posindonesia.net. –

Daerah aliran sungai (DAS) kerap disebut sebagai watershed atau daerah tangkapan (catchment area). Sesuai namanya, DAS berfungsi menangkap dan menampung air. Lebih dari itu, DAS juga menopang kehidupan kita di bumi.

Terkait hal itu, Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cidurian-Cisadane melaksanakan pembahasan mengenai pentingnya restorasi pengelolaan DAS Cidurian -Cisadane pada Jumat, 9 September 2023.

Begitu pentingnya pembahasan mengenai keberadaan Sungai Cisadane ini, pihak UPTD Cidurian -Cisadane yang berkantor di wilayah Kota Tangerang mengundang sejumlah dosen dan praktisi serta stakeholder diantaranta Green Peace dan Institute for Community and Regional Development (ICORD).
Dosen dan praktisi yang hadir dalam forum Restorasi

Pengelolaan DAS Cidurian -Cisadane tersebut adalah Prof. Pius Suratman Kartasasmita, Ph.D dari Universitas Katolik Parahiangan Bandung, Riswanda, Ph.D,Akselerator Kebijakan dari UNTIRTA Serang, Banten, UNPAR Bandung dan UNPAD Bandung serta Prof Janet McIntyte-Mills,pemerhati lingkungan dari Australia yang hadir melalui zoom meeting.

Forum yang  dihadiri salah satu wartawan dari media Jaya Pos sebagai undangan , dan para narasumber fokus membahas mengenai pentingnya tata kelola pengelolaan DAS Cidurian -Cisadane.

Menurut Dr Risnawati, kegiatan ini
merupakan rapat koordinasi penyusunan proposal terkait restorasi program pengelolaan daerah aliran Sungai Cidurian – Cisadane dengan komando pemerintah pusat serta dibantu inisiasi Pemerintah Provinsi Banten melalui fungsi kedinasan terkait.

Pada kesempatan tersebut, menurut Prof Pius Suratman Kartasasmita, sungai semestinya terjaga secara fungsi, bukan hanya terjaga secara fisik, namun juga non-fisik. Perhatian terhadap aspek komunitas sosial yang tinggal di sekitar bantaran sungai laik mendapat sorotan.
“Keberlanjutan dari program-program tata kelola DAS cukup bergantung pada seberapa besar pendekatan kolaboratif lintas kelembagaan dinas membangun pendekatan humanis pada roadmap tata kelola DAS,” katanya.
Disebutkan, aspek pemanfaatan ruang wilayah DAS serta potensi sumber daya yang ada untuk tujuan pembangunan masyarakat,

Pembangunan berkelanjutan berwawasan pengelolaan DAS secara terpadu merupakan bagian dari perpaduan lingkungan hidup. Dengan cara mengawasi kegiatan pengelolaan DAS secara kontinyu dan melakukan evaluasi secara periodik atau berkala terhadap aspek relevansi, kinerja, efisiensi, dan pengaruhnya terhadap tujuan kegiatan yang ingin dicapai. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya memandang manusia sebagai individu yang berdiri sendiri, tetapi juga memperhatikan dampak pembangunan terhadap manusia sebagai makhluk sosial yang peduli akan mengeksplorasi sumber daya alam,

Masih menurut Prof Pius Suratman Kartasasmita, PH.D secara filosofis bahwa semakin modern masyarakat, maka semakin eksploitatif sikapnya terhadap alam, oleh karena itu semakin serius pula kerusakan yang ditimbulkannya. Untuk itu diperlukan adanya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian daerah aliran sungai.

Sementara Associate Professor Riswanda, akademisi dari Universitas Tirtayasa Serang menyebutkan, restorasi sungai adalah mengembalikan fungsi alami/renaturalisasi sungai, yang telah terdegradasi oleh intervensi manusia.

Tujuan restorasi sungai adalah untuk kelestarian lingkungan, peningkatan kualitas sosial-budaya masyarakat dan peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekitar sungai melalui peningkatan kualitas pendidikan, pengetahuan, pemahaman serta kepedulian masyarakat terhadap sungai dan lingkungannya,” jelas Riswanda.

Sementara menurut Dr Risnawati selaku Kepala Tata Usaha (TU) UPTD Cidurian -Cisadane mewakili Kepala UPTD mengatakan, Sungai Cisadane Kota Tangerang dimanfaatkan sebagai sumber air baku PDAM, irigasi, dan keperluan industri.
“Selain sebagai sumber air baku PDAM dan irigasi dan industri, air Sungai Cisadane pun telah diolah menjadi air kemasan. Jadi seperti apa skema ke depan, apakah dengan cara melakukan kolaborasi agar membuat Sungai Cisadane megah tidak hanya untuk kepentingan masyarakat Tangerang dan Jakarta tapi juga dilihat oleh dunia,” ucapnya.

Menata DAS Cidurian-Cisadane, kata Dr Risnawati yang juga seorang dosen praktisi itu, daerah aliran sungai di wilayahnya juga bertujuan untuk mengurangi risiko banjir pada musim penghujan.

Sedangkan menurut konsultan sistem informasi lingkungan – PT TGP, restorasi akan optimal dengan ditunjang oleh
system informasi data yang mutakhir dengan dukungan perangkat dan jaringan yang berbasis digital serta
bisa diakses, yang akan melibatkan keseluruhan stakeholder sebagai salah satu penunjang keputusan dan
pelayanan informasi publik yang efektif.

Dalam hal ini pengelolaan DAS harus mampu menyusun perencanaan, melaksanakan dan monitoring
serta evaluasi dalam satu sistim informasi management yang sistimatis dan terintegrasi dalam upaya
mewujudkan kondisi lingkungan DAS kearah yang lebih baik, dengan demikian maka restorasi yang
diharapkan akan dapat terwujud guna mencapai pembangunan berkelanjutan (SustinableDevelopment).(***)

[otw_is sidebar=otw-sidebar-7]

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.